Tantangan Dunia Kerja Berbasis AI: Generasi Muda Diminta Bangun Portofolio Digital dan Kepemimpinan Diri

By Admin

The Leadership Revolution 2026
nusakini.com, Jakarta – Arus digitalisasi dan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengubah lanskap pencarian tenaga kerja di Indonesia. Menanggapi fenomena tersebut, generasi muda diimbau untuk segera mengubah strategi dalam mempersiapkan karier, tidak lagi sekadar mengandalkan ijazah formal melainkan mulai membangun kepemimpinan diri serta portofolio digital yang terstruktur.

Hal tersebut mengemuka dalam webinar nasional bertajuk “The Leadership Revolution 2026” yang mengusung tema “Be Your Own CEO: Seni Memimpin Diri & ‘Menjual’ Potensi Diri di Era Digital”. Diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Generasi Emas Berkarya (GEMAR Indonesia) ini berlangsung pada Sabtu (27/6/2026) malam.



Praktisi Pemasaran dan Vokasi, Ahmad Madani, saat menjadi narasumber menjelaskan bahwa konsep kepemimpinan saat ini harus dimaknai ulang. Menurutnya, esensi utama kepemimpinan bukan lagi tentang jabatan struktural di sebuah organisasi, melainkan kemampuan seorang individu dalam mengelola dirinya sendiri sebelum melangkah ke dunia profesional.

"Leadership dimulai ketika anak muda berani memimpin dirinya sendiri, mengelola potensi, dan bertanggung jawab atas masa depannya," kata Ahmad Madani dalam pemaparannya melalui aplikasi Zoom, Sabtu (27/6/2026).



Ahmad menilai ijazah kelulusan memang tetap memiliki urgensi tersendiri. Namun, dalam ekosistem dunia kerja modern, dokumen tersebut dinilai hanya berfungsi sebagai akses awal. Faktor penentu yang membuat seorang kandidat dipilih oleh industri adalah bukti nyata dari kompetensi, karakter, serta kemampuan komunikasi dalam menyampaikan nilai diri.

Lebih lanjut, Co-Founder AGMARI tersebut menyoroti kelemahan umum yang kerap dijumpai pada lulusan baru (fresh graduate) maupun siswa vokasi. Banyak di antara mereka yang memiliki kemampuan baik, namun gagal mendokumentasikan proses belajarnya, sehingga karya-karya praktis yang dihasilkan selama masa pendidikan hilang tanpa jejak.



Sebagai solusi, Ahmad mengenalkan metode penyusunan rekam jejak digital menggunakan pendekatan P-A-R (Problem, Action, Result). Lewat formula ini, pencapaian performa dijabarkan mulai dari masalah yang dihadapi, tindakan nyata yang diambil, hingga hasil konkret yang berhasil dicapai. Narasi tersebut kemudian dapat diunggah ke platform profesional seperti LinkedIn atau blog pribadi.

Selain pengemasan portofolio, para peserta webinar juga diperkenalkan pada konsep Answer Engine Optimization (AEO) dan Generative Engine Optimization (GEO). Langkah strategis ini dinilai penting agar profil dan karya digital generasi muda tidak hanya ramah terhadap mesin pencari konvensional, tetapi juga mudah dikenali dan direkomendasikan oleh sistem kecerdasan buatan generatif.

Acara yang dipandu langsung oleh Ketua GEMAR Indonesia, Kartika Rahmadana, ini juga memfasilitasi pembentukan grup pembinaan lanjutan bagi para peserta untuk menjaga kesinambungan ruang belajar digital. (*)